
Militer Israel Akui Jumlah Korban Tewas di Gaza Lebih dari 71 Ribu
Militer Israel Untuk Pertama Kalinya Secara Terbuka Mengakui Jumlah Korban Tewas Di Jalur Gaza Mencapai Lebih Dari 71 Ribu Jiwa. Angka yang sebelumnya selalu diperdebatkan dan dipandang kontroversial. Pengakuan ini menandai perubahan sikap signifikan dalam beberapa tahun konflik yang telah berlangsung sejak serangan besar 7 Oktober 2023.
Hingga kini, Militer Israel jarang mengakui angka kematian yang di rilis oleh otoritas setempat di Gaza, termasuk angka yang di rilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza. Sebuah lembaga yang di kelola di bawah otoritas pemerintahan setempat. Namun pada akhir Januari 2026, pejabat Militer Israel menyatakan bahwa pihaknya kini menerima perkiraan jumlah korban tewas di Gaza setidaknya sekitar 70 ribu jiwa. Angka yang hampir sejalan dengan catatan lembaga kesehatan dari wilayah yang terkepung itu.
Menurut data tersebut, total korban tewas mencapai lebih dari 71.667 orang sejak perang pecah, yang mencakup warga sipil dan militan. Angka ini hanya mencakup mereka yang di laporkan tewas dalam kebakaran atau serangan langsung. Dan tidak memperhitungkan orang‑orang yang masih hilang dan di perkirakan tertimbun reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan selama bertahun‑tahun.
Konflik yang Berkepanjangan Militer Israel dan Gaza
Perang yang memicu kebencian dan tragedi ini bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 1.200 orang di Israel, banyak di antaranya warga sipil. Respon Israel terhadap serangan tersebut adalah operasi militer besar‑besaran di Jalur Gaza yang kemudian berubah menjadi konflik panjang dengan korban yang terus bertambah di kedua sisi.
Sejak awal konflik, angka kematian di pihak Palestina selalu menjadi sumber perdebatan tajam. Otortias Israel sempat meragukan atau bahkan menolak angka yang di keluarkan oleh otoritas di Gaza, menyebutnya berlebihan atau bias. Namun pengakuan terbaru menunjukkan bahwa angka tersebut secara garis besar dapat di terima.
Dampak Humaniter yang Luas
Jumlah korban jiwa yang tinggi ini bukan hanya angka statistik: mayoritas korban di laporkan adalah warga sipil, termasuk anak‑anak, wanita, dan lansia. Meski militer Israel menyatakan belum memverifikasi pembagian antara militan dan warga sipil secara detail. Banyak kelompok kemanusiaan dan organisasi internasional sejak lama menekankan bahwa proporsi korban sipil sangat besar dalam konflik ini.
Krisis kemanusiaan di Gaza juga di picu oleh blokade, kerusakan infrastruktur, kekurangan air bersih dan layanan kesehatan. Serta pembatasan bantuan internasional yang masuk ke wilayah tersebut. Kondisi ini menambah beban penderitaan warga sipil, yang tidak hanya menghadapi ancaman langsung dari serangan bersenjata tetapi juga kesulitan hidup sehari‑hari.
Reaksi Internasional dan Tuntutan Akuntabilitas
Pengakuan Israel atas angka kematian yang tinggi ini datang di tengah tekanan global terhadap cara perang di jalankan. Sejumlah organisasi hak asasi manusia dan PBB telah lama mendesak penyelidikan internasional mengenai praktik militer dan dampaknya terhadap warga sipil. Mereka juga menyoroti perlunya perlindungan hukum internasional dan akuntabilitas atas tindakan yang menyebabkan korban sipil.
Terdapat laporan bahwa komisi internasional yang di mandatkan PBB menyimpulkan bahwa pola kekerasan tersebut dapat menunjukkan unsur genosida atau kejahatan perang. Laporan tersebut semakin memperkuat tuntutan bagi komunitas internasional untuk bertindak melalui badan hukum internasional seperti Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).
Apa Arti Pengakuan Ini?
Pengakuan Militer Israel atas angka korban tewas yang hampir setara dengan angka dari Kementerian Kesehatan Gaza adalah langkah besar dalam transparansi statistik konflik, meskipun tidak serta‑merta mengakhiri perselisihan politik dan moral yang mendalam. Ini juga merupakan pengakuan bahwa konflik tersebut telah menelan jumlah korban manusia yang sangat tinggi. Dengan dampak generasi panjang bagi masyarakat Gaza.
Namun, banyak pengamat mengatakan bahwa angka resmi ini hanya bagian dari gambaran lengkap. Karena ribuan orang masih hilang atau belum teridentifikasi di bawah reruntuhan bangunan. Dan kematian tidak langsung akibat konflik seperti akibat kekurangan layanan kesehatan atau sanitasi belum sepenuhnya terhitung.